mulyandari

Thursday, June 09, 2005

peranan komunikasi kepemimpinan dalam dinamika kelompok kerja

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dan pertumbuhan suatu bangsa, baik sekarang maupun yang akan datang tentunya tidak bisa lepas dari peranan proses industrialisasi. Industrialisasi sangat ditunjang oleh peranan tenaga kerja (buruh). Berkualitasnya sumberdaya manusia dan semakin efektif penggunaan alat-alat produksi sangat diperlukan oleh setiap industri.Meningkatnya sumberdaya manusia dan semakin efektif alat-alat yang digunakan, maka akan mengakibatkan hasil produksi industri mampu bersaing dengan industri lainnya.
Proses berproduksi merupakan kegiatan terus-menerus dalam suatu industri, dimana kegiatan itu bertujuan untuk menghasilkan produk-produk yang menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Proses produksi dilakukan oleh sekelompok kerja, dimana pengelompokkan tersebut ditentukan oleh pemimpin dari industri tersebut Semua proses produksi dan perilaku para pekerja tidak terlepas dari besarnya peran seorang pemimpin dalam mengatur kegiatan industri yang akan dilakukan. Para pekerja tersebut tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa mereka adalah individu-individu yang juga mempunyai kebutuhan, harapan, kesejahteraan dan keinginan dari tempat kerjanya. Semua itu berkaitan erat dengan kualitas hasil kerja yang sesungguhnya terkait dengan motivasi kerja masing-masing individu (Mulyono, 2002). Untuk mencapai itu semua maka terkait dengan dinamika kelompok kerja. Dinamika kelompok kerja itu terkait dengan tujuan industri yaitu unutuk mencari keuntungan serta tujuan para karyawan untuk memperoleh kesejahteraan, fungsi dan pengembangan tugas yang dilakukan oleh para pegawai, kekompakkan antar pegawai, dan keberhasilan kerja para peagwai. Sehingga peran kepemimpinan sangat berperan penting atas hal tersebut.

1.1.1 Komunikasi Dalam Industri
Menurut Effendi (1993), komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan agar orang tersebut mengerti, mengetahui serta bersedia menerima suatu paham atau keyakinan sehingga mau melak.Beberapa jenis komunikasi diantaranya adalah komunikasi secara vertikal, horozontal, diagonal, maupun secara kelompok. Umumnya komunikasi yang terjadi di industri adalah komunikasi kelompok, hal ini terutama dilakukan antar pegawai yang ada. Komunikasi kelompok adalah suatu proses komunikasi diantara sekelompok orang (2-20 orang) yang saling mempengaruhi dalam situasi tatap muka untuk mencapai tujuan bersama (Alvin dan carl, 1985. Perbedaan komunikasi kelompok yang fungsional maupun yang tidak (dysfunctional) sangat berhubungan dengan apakah tindakan komunikatif para anggota itu bersifat menegaskan (confor ukan sesuatu perbuatan atau kegiatan dan lain-lainming) atau tidak menegaskan (disconfirming).
Tanggapan yang tidak menegaskan yang bisa terjadi dalam suatu industri, yaitu:
1. Tanggapan yang tertahan, yaitu apabila seseorang tidak mempedulikan orang lain dengan cara tidak menghiraukan komunikasi orang lain
2. Tanggapan yang mengganggu, yaitu bila seseorang pembicara memotong pembicara lain
3. Tanggapan yang tidak relevan, yaitu bila seseorang pembicara memberi tanggapan yang tidak berhubungan dengan apa yang dikatakan orang lain
4. Tanggapan yang berbelit, yaitu bila seseorang pembicara menanggapi komunikasi orang lain tapi langsung mengalihkan pembicaraan mereka kearah lain
5. Tanggapan yang tidak pribadi, yaitu bila seorang pembicara berbicara secara monolog, dan apabila tingkah laku komunikasi lisannya kelihatan “diilmiahkan” dan tidak bersifat pribadi.
6. Tanggapan yang membingungkan, yaitu bila seorang pembicara ditanggapi dengan menggunakan kalimat-kalimat yang tidak lengkap, dengan pernyataan yang sulit untuk diikuti.
7. Tanggapan yang tidak layak, yaitu bila seorang berbicara dengan tingkah laku yang non vocal yang seolah-olah tidak konsisten dengan isi vocal.
Sedangkan untuk tanggapan yang menegaskan yang terjadi dalam industri, yaitu:
1. Pengakuan langsung. Seorang pembicara menghiraukan komunikasi orang lain dan beraksi secara langsung dan verbal
2. Persetujuan tentang isi. Seorang pembicara mengiyakan atau mendukung informasi atau pendapat yang dinyatakan oleh oranglain.
3. Tanggapan yang mendukung. Seorang pembicara menyatakan pengertiannya terhadap orang lain atau mencoba agar membuat orang lain merasa senang
4. Tanggapan yang menjelaskan. Seorarang pembicara mencoba menjelaskan isi dari pesan orang lain
5. Pengungkapan perasan yang positif. Seseorang melukiskan perasaan sendiri secara positif terhadap pernyataan yang dikemukakan orang lain.
Dengan demikian, jika dalam berkomunikasi terjadi tanggapan yang menegaskan maka proses berkomunikasi tersebut telah berjalan dengan baik. Tanggapan yang menegaskan adalah tanggapan yang dianggap menyebabkan seseorang menghargai dirinya sebagai pribadi. Sedangkan tanggapan yang tidak menegaskan terjadi kalau tindakan komunikatif dari orang lain tidak berusaha menurut pengakuan langsung atau perhatian yang serius. Dengan kata lain terjadi bila tidak menghargai oranglain.
Menurut Sastropoetra (1988) berpendapat bahwa komunikasi yang berhasil atau efektif yaitu:
1. Menggunakan lambang-lambang yang serasi dan tepat
2. Menggunakan media atau saluran yang tepat
3. Pesan disampaikan dapat menimbulkan minat dan perhatian
4. Pesan memberikan sasaran atau stimuli untuk pemecahan masalah.
Jika Komunikasi telah berhasil atau efektif maka akan terjadi pemahaman yang sama antara komunikan dan komunikator, serta dapat merangsang pihak lain untuk melakukan tindakan atau berpikir dengan cara yang baru.

1. 1. 2. Kepemimpinan Dalam Industri
Kepemimpinan merupakan terjemahan dari kata “leadership”. Menurut Sunindhia dan Widiyanti (1993) kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang-orang agar bekerjasama menuju kepada suatu tujuan tertentu yang mereka inginkan bersama.
Teori kepemimpinan menurut Mar’at (1982) merupakan faktor-faktor yang memungkinkan munculnya kepemimpinan yang termasuk didalamnya sifat-sifat dari kepemimpinan tersebut, diantaranya:
1. Teori serba sifat (Traits theory). Teori ini mengatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, tidak dibentuk
2. Teori sosial, menyatakan bahwa:
a. Kepemimpinan adalah dibuat, bukan dilahirkan
b. Kepemimpinan tidak sama dengan takdir
c. Kepemimpinan dapat dipindahkan
d. Pendidikan, latihan, dan lingkungan sosial penting untuk membentuk atau memunculkan pemimpin
3. Teori pribadi situasi (Personal-situational theory). Teori ini mengakui bahwa kepemimpinan merupakan produk dari terkaitnya 3 faktor yang mendasari yaitu perangai, sifat dari kelompok dan anggota-anggotanya dan kejadian-kejadian yang dihadapai oleh kelompok.
4. Teori tukar-menukar. Kepemimpinan muncul dari adanya hubungan antar pribadi lalu terjadi saling memberi dan menerima, dimana pengorbanan akan terjadi jika adanya suatu imbalan
5. Teori interaksi dan harapan. Teori ini mendasarkan pada variabel-variabel aksi, reaksi, interaksi dan perasaan yang menjelaskan bahwa semakin terjadi interaksi dan partisipasi dalam kegiatan bersama semakin meningkat perasaan saling menyukai satu sama lain dan semakin memperjelas pengertian atas norma-norma kelompok.
6. Teori lingkungan. Teori ini menjelaskan bahwa munculnya pemimpin-pemimpin itu merupakan hasil daripada waktu, tempat, dan keadaan atau situasi dan kondisi. Seorang pemimpin yang berhasil pada kondisi tertentu tidak menjamin bahwa ia pasti akan berhasil pada situasi dan kondisi yang lain.
Dengan demikian, faktor-faktor tersebut akan memungkinkan adanya sifat-sifat dari seorang pemimpin, yang nantinya akan berpengaruh bagi seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya. Dari teori tersebut, maka teori kepemimpinan yang mungkin ada adalah teori sosial, teori tukar-menukar, dan teori interaksi dan harapan, Dalam teori sosial dijelaskan bahwa siapapun mampu menjadi pemimpin asalkan orang tersebut berpendidikan dan terampil. Pada teori tukar-menukar dijelaskan bahwa dalam industri terjadi tukar-menukar antar pegawai dengan atasan., dimana atasan memberikan imbalan berupa gaji atau bonus bagi pegawainya, sedangkan bawahan memberikan tenaga dan waktunya untuk memproduksi barang yang diiinginkan oleh industri tersebut. Teori interaksi dan harapan dalam industri terlihat dari adanya partisipasi pegawai untuk bekerja dengan giat sesuai dengan perintah pemimpin. Hal ini dilakukan karena terdapat rasa saling menyukai antara pegawai dengan pemimpin, sehingga tidak ada rasa keterpaksaan bagi mereka untuk saling bekerjasama.
Menurut Kotter (1988), suatu kepemimpinan yang efektif memerlukan pendidikan pelatihan yang berkaitan dengan penampilan peranan dalam hal:
a. Menyadarkan pengikut akan masalah
b. Memberi informasi
c. Memotivasi pengikut
d. Membina kerjasama
e. Memberi ganjaran atau sanksi
f. Sebagai penghubung antar sistem
Dalam suatu industri., penampilan peranan pemimpin yang bisa muncul dan membutuhkan pendidikan pelatihan adalah dalam hal menyadarkan pengikut akan masalah, memberi informasi, memotivasi pengikut, dan membina kerjasama. Seorang pemimpin harus selalu melakukan komunikasi dengan para pegawainya, terutama jika suatu industri menghadapi masalah produksi, dengan komunikasi pegawai mengetahui informasi apa saja yang ada dalam industri. Komunikasi yang efektif tentunya juga dapat memotivasi dan membina pegawai dalam bekerja. Dengan semakin banyaknya pendidikan dan pelatihan yang diberikan bagi seorang pemimpin, maka semakin baik kualitas pemimpin tersebut. Sebab dengan pendidikan dan pelatihan tersebut akan membuat pemimpin efektif untuk menjalankan tugasnya.

1. 1.3 Dinamika di Dalam Kelompok Kerja
Syamsu (1991), mengemukakan bahwa dinamika kelompok sebagai suatu disiplin ilmu yang merupakan suatu studi yang menganalisis berbagai kekuatan yang menentukan perilaku anggota dan perilaku kelompok dan menyebabkan terjadinya gerak perubahan dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, karena itu dinamika kelompok dalam konteks sosial adalah sistem-sistem tindakan yang diambil oleh setiap individu yang apabila dihimpun akan menghasilkan suatu kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu Santoso (1992), mengemukakan dinamika kelompok merupakan suatu kelompok yang teratur terdiri dari 2 individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lainnya. Dalam suatu industri hal-hal yang membuat suatu kelompok dinamis atau tidak, yaitu:
1. Tujuan kelompok, yaitu bagaimanan semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai tujuan bersama, dimana tujuan yang ditetapkan harus jelas dan relevan dengan tujuan pribadi.
2. Struktur kelompok, yaitu hubungan di antara anggota kelompok yang di dalamnya terdapat status dan peranan.
3. Fungsi tugas, yaitu semua kegiatan kelompok yang dilakukan untuk mencapai tujuan kelompok. Tugas-tugas yang dipentingkan dalam kelompok yaitu:
a. Kepuasan, sejauhmana anggotanya puas sebagai anggota kelompok
b. Informasi, suatu kelompok akan tercapai tujuannya jika ada pertukaran informasi atau saling memberikan informasi satu sama lain
c. Koordinasi, yaitu bagaimana mengkoordinasikan semua sumberdaya yang ada dalam kelompok tersebut.
d. Prakarsa
e. Distribusi atau penyebaran, yaitu semua anggota kelompok hendaklah mendapat informasi dan harus mengetahui apa yang akan dilakukan.
4. Pengembangan dan pembinaan kelompok, yaitu semua usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup kelompok itu sendiri. Faktor-faktor yang terkait yaitu :
a. Partisipasi
b. Fasilitas
c. Kegiatan
d. Koordinasi
e. Komunikasi
f. Norma atau peraturan kelompok
g. Sosialisasi
h. Penambahan anggota
5. Kekompakan anggota, ditunjukkan dari adanya kebersamaan atau kesatuan, dan keterikatan
6. Suasana kelompok, yaitu suatu gambaran yang menunjukkan perasaan-perasaan yang ada dalam kelompok tersebut. Tekanan kelompok, yaitu suatu stimuli yang membuat kelompok bereaksi atau tidak statis. Tekanan bisa datang dari dalam dan luar kelompok
7. Keberhasilan kelompok
8. Maksud tersembunyi (hidden agenda), yaitu suatu maksud yang tidak pernah dikemukakan oleh anggota kelompok
Jika dalam suatu kelompok telah mencapai kedinamisan, maka dpat dipastikan hubungan yang terjadi antar karyawan dengan karywan dan antara karyawan dengan pemimpin akan terjadi keharmonisan, kerjasama, dan sikap saling mendukung. Jika hal tersebut telah ada maka tujuan dari masing-masing karyawan dan perusahaan menjadi seimbang, dan tentunya hal itu akan mempermudah untuk pencapaian tujuan bersama.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka yang telah dibuat maka perumusan masalah yang dapat diangkat yaitu :
1. Mengapa komunikasi kepemimpinan berhubungan dengan dinamika bentuk kelompok kerja ?
2. Bagaimana perselisihan yang terjadi antara pemimpin dengan kelompok kerja jika komunikasi pemimpin tidak efektif ?
3. Bagaimana Komunikasi yang sebaiknya dijalankan oleh seorang pemimpin ?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis hubungan komunikasi kepemimpinan dengan dinamika kelompok kerja
2. Untuk mengetahui bentuk perselisihan yang muncul antara pemimpin dengan kelompok kerja jika komunikasi kepemimpinan tidak efektif
3. Untuk menganalisis komunikasi yang sebaiknya dijalankan oleh seorang pemimpin.

1.4 Kegunaan Penelitian
Rencana penelitian ini bertujuan untuk meneliti peran komunikasi kepemimpinan dalam meningkatkan dinamika kelompok kerja. Diharapkan proposal ini berguna bagi penulis pada umumnya dan bagi masyarakat luar pada khususnya, hal ini dalam kaitannya dengan:
1. Penulis dapat lebih memahami tentang peran komunikasi kepemimpinan dalam meningkatkan dinamika kelompok kerja
2. Dapat menambah literatur-literatur tentang kepemimpinan, Komunikasi, dalam kaitannya dengan dinamika kelompok kerja bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji permasalahan ini.
3. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini dapat berguna sebagai sarana belajar untuk mengimplememtasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah dalam kehidupan nyata di masyarakat.

1. 5 Hipotesis Pengarah
Komunikasi pemimpin sangatlah berperan penting dalam suatu industri, sebab dapat meningkatkan dinamika kelompok kerja. Jika terjadi peningkatan dinamika kelompok kerja maka akan menimbulkan hal-hal yang sifatnya positif. Hal tersebut tentunya berhubungan dengan cara untuk mencapai tujuan, pembagian kerja yang adil, kekompakkan kelompok, terciptanya suasana kelompok yang harmonis serta terciptanya keberhasilan untuk mencapai tujuan. Sehingga karyawan yang awalnya kurang bersemangat atau bermotivasi untuk kerja menjadi lebih bersemangat dalam melakukan fungsi tugasnya.
Dalam suatu industri jika pemimpin tidak melakukan komunikasi dengan efektif dengan bawahan, maka akan menimbulkan perselisihan. Bentuk perselisihan tersebut bisa berupa peselisihan hak, perselisihan kepentingan, dan perselisihan pemutusan hubungan kerja. Jika terjadi kondisi kerja seperti itu makaakan mengakibatkan sistem kerja atau produksi tidak akan dijalankan dengan baik. Olehkarena itu, maka perlu dilakukan penyelesaian dari perselisihan yang terjadi. Caranya dengan melakukan mediasi, konsiliasi dan arbitrasi antar pemimpin dengan pegawai.
Komunikasi yang hendaknya dijalankan oleh seorang pemimpin adalah dengan melakukan komunikasi secara efektif dan intensif. Agar Komunikasi pemimpin tersebut efektif maka diperlukan pendidikan dan pelatihan, sehingga dapat memperluas pengetahuan atau wawasan pemimpin dalam memahami kebutuhan, permasalahan, bahkan dapat memotivasi kerja para karyawannya. Jika semua hal tersebut telah terpenuhi , maka akan muncul kedinamisan kelompok kerja yang berpengaruh dalam usaha pencapaian tujuan.


BAB II
Metodologi


2.1 Metode Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan eksplorasi, yaitu ingin meneliti gejala-gejala yang belum banyak dimengerti tentang mengapa komunikasi kepemimpinan berhubungan dengan dinamika kelompok kerja, bagaimana bentuk perselisihan yang terjadi antara pemimpin dengan kelompok kerja jika komunikasi kepemimpinan tidak efektif, serta bagaimana komunikasi yang sebaiknya dijalankan oleh seorang pemimpin.
Penelitian ini mencoba mengeksplorasi suatu gelaja sosial sebagaimana adanya. Peneliti ingin menjelaskan gambaran tentang peranan komunikasi kepemimpinan dalam dinamika kelompok kerja suatu industri. Penelitian ini diarahkan pada gejala sosial kontemporer, yakni bagaimana peranan komunikasi kepemimpinan serta dinamika kelompok kerja pada Industri Pintu Mas, Desa Darmaga, Bogor.

2.2 Lokasi dan waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Industri Pintu Mas, Desa Darmaga, Bogor. Lokasi penelitian dipilih secara purposif (sengaja) dengan pertimbangan : Industri Pintu Mas merupakan industri yang sampai sekarang masih aktif dan hampir setengah penduduknya bekerja di tempat tersebut.
Penelitian akan dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2005.

2.3 Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan dan wawancara. Sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur-literatur yang membahas tentang peranan komunikasi kepemimpinan dalam dinamika kelompok kerja. Literatur-literatur yang didapat tidak hanya dari buku-buku perpustakaan, dan jurnal penelitian tetapi juga dari internet. Berdasarkan pemikiran Vredenbergt, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan oleh peneliti adalah metode pengamatan berperanserta terbatas. Pengamatan yang dilakukan peneliti dilakukan dengan wawancara informal dan formal, dan dengan berperansertanya dalam beberapa kegiatan tineliti.
Teknik pengambilan data selanjutnya adalah wawancara mendalam, cimana wawancara yang dilakukannya adalah untuk mempelajari kejadian dn kegiatan yang tidak dapat diamati secara langsung. Wawancara dilakukan baik wawancara perorangan maupun wawancara kelompok setelah terlebih dahulu memahami panduan pertanyaan (lampiran 4).
Untuk memastikan data maka peneliti akan melakukan cek silang, dengan mewawancarai pihak manajer, mandor industri ataupun masing-masing ketua kelompok kerja. Untuk mendukung pemahaman atas dinamika kelompok kerja maka peneliti melakukan dokumentasi foto dan rekaman hasil wawancara.

2.4 Teknik Analisis Data
Data-data yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam, pengamatan berperanserta terbatas, dan analisis dokumen serta literatur-literatur direduksi melalui proses pemilihan, pengkategorian/pengelompokkan data-data yang sesuai, mengkode dan menelusuri tema-tema sesuai gugus-gugus analisis dalam outline laporan akhir. Setelah mereduksi data, lalu data disajikan dalam bentuk kutipan baik langsung maupun tidak langsung berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti. Selain itu data yang ada disajikan kedalam bentuk matriks serta bagan untuk memudahkan dalam melakukan penarikan kesimpulan. Setelah penyajian data, maka dilakukan penarikan kesimpulan terhadap sejumlah data yang ada

Kesimpulan
Dalam suatu industri, ternyata banyak hal yang terjadi. Tentunya, hal yang demikian dikenal dengan dinamika kelompok kerja. Kedinamikan kelompok kerja tersebut sangat terkait dengan peranan seorang pemimpin dalam menjalankan komunikasi atau bagaimana melakukan proses interaksi secara berkesinambungan dengan para bawahannya. Semua itu yang akan menentukan apakah konsisi kerja menjadi dinamis atau tidak

Saran
1. Untuk dapat mencapai tujuan perusahaan, maka perlu peranan seorang pemimpin dalam menjalankan proses produksi
2. Komunikasi yang sebaiknya dilakukan oleh pemimpin haruslah efektif dan efisien agar bawahan dapat mengetahui bahkan dapat bertanggungajawab tentang pekerjaan yang menjadi tugas dan kewajibannya


Daftar Pustaka

Effendi. 1993. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Goldberg Alvin A. dan Carl. Larson. 1985. Komunikasi Kelompok. Jakarta: Unversitas Indonesia.
Hubungan Antara Persepsi Mengenai Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Berprestasi. http;//psikologi-untar.com/skripsi/sherley_stacia.htm. (Diakses Tanggal 27 Februari 2005).
Kotter John P. . 1988. The Leadership Actor. NewYork: The Free Press A. Division of Simon and Schuster Inc.
Mar’at. 1984. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta; Ghalia Indonesia.
Mulyono, Pudji. 2002. ”Hubungan Antara kepuasan Kerja Dan Sikap Terhadap Profesi Dengan Motivasi Kerja Pustakawan.” Jurnal Perpustakaan Pertanian. 2002, vol. 11, pp. 1-5.
Pelatihan Manajemen dan Pengembangan kelompok http://www.deliveri.org/deliveri/training/gmdtbmi.htm. (Diakses Tanggal 26 Februari 2005).
Sastroputra. 1988. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin Dalam Pembangunan Nasional. Bandung: Alumni.
Syamsu, Syahriman, et all. 1991.Dinamika Kelompok dan Kepemimpinan. Yogyakarta: Universitas Atmajaya.
Santoso, S. 1992. Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Aksara..
Widiyanti dan Y. W. Sunindhia. 1993. Kepemimpinan Dalam Masyarakat Modern. Jakarta: Rineke Cipta.


Outline Laporan Akhir

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Topik
1.2 Tinjauan Pustaka
1.2.1 Komunikasi Dalam Industri
1.2.2 Kepemimpinan Dalam Industri
1.2.3 Dinamika Di dalam Kelompok Kerja
1.3 Permasalahan Penelitian
1.4 Tujuan Penelitian
1.5 Kegunaan Penelitian
1.6 Hipotesis Pengarah

II. Metodologi
2.1 Metode Penelitian
2.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
2.3 Teknik Pengumpulan Data

III. Konteks Lokasi
3.1 Fisik/infrastruktur/ekonomi masyarakat Darmaga
(topografi wilayah desa, lokasi perumahan, masjid, tempat pertemuan kelompok kerja, industri tempat bekerja)
3.2 Struktur Sosial Masyarakat Desa Darmaga
(posisi-posisi masyarakat/orang-orang tertentu dalam masyarakat, dan khususnya dalam Industri Pintu Mas)
3.3 Suprastruktur Desa Darmaga
(nilai-nilai dan norma-norma baik didalam masyarakat Desa Darmaga maupun di dalam Industri Pintu Mas)

IV. Komunikasi kepemimpinan di dalam kelompok kerja
4.1 Peran kepemimpinan terhadap fungsi memberi informasi, memberi gagasan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi oleh kelompok kerja
4.2 Peran kepemimpinan terhadap fungsi memberi informasi, memberi gagasan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi oleh kelompok kerja serta membina kekompakkan kelompok kerja
4.3 Peranan komunikasi kepemimpinan di dalam menciptakan struktur kelompok kerja
4.4 Peranan komunikasi kepemimpinan di dalam memelihara kepuasan kerja serta koordinasi antar semua pekerja.
4.5 Peranan komunikasi kepemimpinan di dalam memelihara kekompakkan kelompok kerja
4.6 Peranan komunikasi kepemimpinan di dalam menciptakan keberhasilan tugas kelompok kerja
V Dinamika Kelompok Kerja
5.1 Proses interaksi antara anggota kelompok kerja
1.2. Proses pembinaan dan pengembangan hubungan di dalam kelompok kerja
VI. Kesimpulan dan Saran
VI. Lampiran



catatan harian
File : Hasil Wawancara
Bahan analisis : Komunikasi dalam kelompok kerja
Hari/Tanggal : Minggu, 22 mei 2005
Waktu : 09.00-10.00 WIB
Tempat : Kediaman Bp.Hasan, Jakarta
Penganalisis : mulyandari

Bapak Hasan adalah salah satu orang yang bekerja di industri.
beliau tamatan SMA, dan setelah lulus dari SMA langsung bekerja di industri tersebut.
Menurutnya, dalam suatu industri, perusahaan membagikan waktu kerja bagi para karyawannya.
pembagian kerja tersebut, biasa disebut dengan shift.
Umumnya shift dalam industri ada 2 yaitu shift pagi dan shift malam.
shift pagi dimulai dari pagi-sore hari ( 07.00-15.00).
Shift malam dimulai dari sore-malam hari (15.00-23.00).
Dalam proses produksinya, industri banyak melakukan spesialisasi pekerjaan, yang berupa pembentukan kelompok kerja. Dimana, kelompok-kelompok kerja tersebut terdiri dari orang-orang (pekerja) yang khusus menangani satu jenis pekerjaan saja.
Dalam industri kecil, spesialisasi yang terjadi diantaranya adalah kelompok kerja pembuat motif, kelompok kerja penjahit, kelompok kerja menggunting, dan kelompok kerja sablon, kelompok kerja wantek, dan kelompok kerja packing.
Masing-masing kelompok kerja tersebut dipimpin oleh satu orang pemimpin.
Yang biasa disebut dengan mandor. Tugas mandor tersebut adalah untuk memberikan perintah dari atasan (pemimpin perusahaan), mengamukumulasi sejumlah produk jadi (hasil dari proses produksi tersebut), bahkan mengawasi jalannya kegiatan produksi. Semangat atau tidaknya karyawan dalam bekerja tergantung dari besarnya interaksi antar mandor dengan bawahannya. Semakin sering berinteraksi maka kedekatan hubungan antara mandor dengan bawahannya semakin baik. Bentuk interaksi yang dilakukan berupa adanya komunikasi, baik komunikasi dalam hal kerja maupun komunikasi diluar pekerjaan. Pengertian komunikasi dalam hal kerja disini yaitu berupa adanya instruksi dari atasan yang memberitahukan kepada bawahan tentang apa saja yang akan dan harus dilakukan oleh bawahannya, sehingga bawahan menjadi tahu hal-hal apa saja kewajiban mereka. Jika kondisi demikian terjadi, maka akan timbul motivasi bagi mereka untuk bekerja dengan lebih baik. sedangkan yang dimaksud diluar jam kerja mereka bekerja, misalnya pada saat istirahat mereka saling berbincang-bincang tentang hal apa saja. Perbincangan tersebut yang membuat tidak ada jarak antara atasan dengan bawahan. Akibatnya, upaya untuk mencapai tujuan bersama (tujuan industri) akan tercapai. dalam hal bekerja, teguran seorang mandor bisa berupa:
1. Pada saat karyawan (bawahnnya) yang tidak masuk tanpa ada surat izin
2. Pada saat ada karyawan yang selalu datang terlambat
3. Pada saat karyawan terjadi kesalahan dalam bekerja (misal: salah menggunting atau salah menjahit, dan lain-lain)
4. Pada saat karyawan bersikap tidak sopan dengan sesama rekan kerja maupun dengan atasannya sekalipun (mandor)

4 Comments:

At 2:54 PM, Blogger Ivanovich Agusta said...

Proposal yang menarik. Untuk selanjutnya bisa menghubungi Pak Said Rusli, jika masih tertarik kepemimpinan

 
At 6:36 PM, Blogger keviningals39584591 said...

i thought your blog was cool and i think you may like this cool Website. now just Click Here

 
At 5:34 PM, Blogger johneyfisher2800905673 said...

I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. So please Click Here To Read My Blog

http://pennystockinvestment.blogspot.com

 
At 6:08 AM, Blogger joeytheo93350625 said...

Get any Desired College Degree, In less then 2 weeks.

Call this number now 24 hours a day 7 days a week (413) 208-3069

Get these Degrees NOW!!!

"BA", "BSc", "MA", "MSc", "MBA", "PHD",

Get everything within 2 weeks.
100% verifiable, this is a real deal

Act now you owe it to your future.

(413) 208-3069 call now 24 hours a day, 7 days a week.

 

Post a Comment

<< Home